Talentics Blog

Tren, Wawasan, dan Opini seputar HR & People Analytics

HR & Media

Hadapi Resesi dengan 5 Strategi HR

25 Jan 2023 Luqman Hafidz

Pemutusan hubungan kerja menimpa lebih dari 150.000 orang selama tahun 2022, belum  genap satu bulan tahun 2023 berjalan, lebih dari 50.000 profesional perlu menenggak pahitnya gelombang layoff yang datang, tak terkecuali mereka yang bekerja di Google, Meta/Facebook, Amazon, dan Shopify. Di dalam negeri, setidaknya 5000 pekerja profesional mengalami pemutusan hubungan kerja. Bahkan perusahaan besar seperti Go-To dan Ruang Guru juga terdampak.

Melihat banyaknya orang yang terdampak dan pengaruh efek domino secara psikologis yang mungkin menimpa para karyawan, perusahaan dituntut untuk terus bisa transformatif dan agile. Divisi HR memiliki peran penting untuk menjaga semangat setiap karyawan agar visi dan misi perusahaan tetap dapat diraih meskipun kondisi ekonomi masih dalam kondisi yang sulit diprediksi, atau mungkin terjadinya resesi. Artikel ini akan membahas resesi yang mencakup definisi, penyebab, hubungan antara PHK dan resesi, serta strategi yang perlu dipersiapkan praktisi HR untuk mengamankan perusahaan dan karyawan agar tidak terjerumus jurang resesi.

Apa itu Resesi?

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia versi daring, resesi adalah menurunnya (mundurnya, berkurangnya) kegiatan dagang (industri). Sedangkan Kementerian Keuangan mendefinisikan resesi sebagai suatu kondisi dimana terjadinya penurunan aktivitas ekonomi umum secara signifikan di suatu wilayah tertentu yang ditandai dengan berkontraksinya pendapatan negara atau GDP selama dua kuartal atau lebih secara berturut-turut. Apabila disimpulkan, skala resesi mencakup keseluruhan jual dan beli yang terjadi pada suatu negara atau wilayah, bukan hanya mencakup beberapa perusahaan saja.

Apa yang Menyebabkan Resesi?

Secara umum ada enam hal yang dapat menyebabkan resesi yaitu kenaikan harga barang atau inflasi yang tidak terbendung, perubahan teknologi, guncangan ekonomi seperti masa pandemi, pengelolaan kas negara yang tidak sehat, penggelembungan aset, sampai dengan deflasi atau penurunan harga barang yang tidak dapat dibendung.

Ketika terjadi, resesi diawali oleh krisis ekonomi. Yaitu kondisi dimana perekonomian suatu negara mengalami penurunan. Apabila dilihat dari sudut pandang negara, Indonesia setidaknya telah melewati beberapa krisis yaitu pada tahun 1998, 2008, 2013 dan 2020. Namun Indonesia hanya tercatat mengalami resesi pada tahun 1965 dan 1998 saja.

Perusahaan Melakukan PHK sebagai Pencegahan Resesi?

Terdapat beberapa narasi yang menyatakan bahwa akan terjadi resesi 2023 bahkan menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun yang gelap. Secara global, PHK telah dilakukan oleh setidaknya 1100 perusahaan dan berdampak pada 200.000 karyawan.

Informasi yang didapatkan dari McKinsey menyatakan bahwa pertemuan tahunan yang diadakan oleh World Economic Forum menghimbau perubahan fokus perusahaan terkemuka dunia untuk beralih dari growth menjadi sustainable and inclusive growth. Artinya perusahaan harus memperhatikan pertumbuhan secara  jangka panjang dan mencakup semua hal secara 360 derajat agar perusahaan dapat terus bersaing.

Baca juga: Catat 7 Tren Teknologi HR untuk Proses Rekrutmen 2023

5 Strategi HR dalam Menghadapi Risiko Resesi 2023

Mencegah lebih baik daripada mengobati, begitu pula untuk para praktisi HR yang ada di dalam negeri. Berikut adalah 5 strategi yang dapat segera diaplikasikan untuk mempersiapkan perusahaan jika resesi terjadi. Jikalau resesi tidak terjadi, strategi ini dapat membawa perusahaan untuk lebih sustain menjalani visi dan misi.

1.   Dengarkan Suara Karyawan

Sering kita mendengar perusahaan yang mengutamakan pelanggan dengan moto customer first. Namun terkadang kita lupa bahwa karyawan adalah para profesional yang menghadapi para customer dan menjadi ujung tombak perusahaan. Pastikan perusahaan mendengarkan apa yang menjadi kerisauan para karyawan, proses mendengarkan karyawan dapat dilakukan dalam beberapa kegiatan atau metode seperti:

  • Survey karyawan
  • Town Hall meeting
  • Surel elektronik
  • Platform komunikasi seperti Slack, Microsoft Teams atau Discord
  • Feedback Form yang dapat diakses kapan saja
  • Periode penilaian performa karyawan secara berkala

Baca juga: 9 Cara Melakukan Perfromance Appraisal yang Objektif dan Anti Bias

2.   Kembangkan Inovasi tanpa Batas

Perusahaan harus mampu berevolusi, beradaptasi dan berubah arah agar dapat bertahan apabila terjadi. Namun, seringkali perusahaan terjebak dalam situasi dan bisnis model yang sudah dijalani selama bertahun-tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Great Place to Work menemukan bahwa kapasitas inovasi sebuah organisasi tidak ditentukan oleh besarnya Departemen Riset dan Pengembangan atau kecepatan pemikiran C-level dalam mengatasi krisis, namun ditentukan oleh seberapa banyak karyawan yang mendapat kesempatan untuk berevolusi dengan para pemimpin yang aktif mencari ide dari karyawan. Hasilnya, lebih banyak ide berkualitas tinggi, kecepatan implementasi yang lebih cepat, agilitas yang lebih tinggi dan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi.

3.   Penuhi Janji Perusahaan

Saat mengalami kondisi yang sulit, memenuhi janji menjadi lebih penting dari sebelumnya. Karyawan ingin pemimpin yang dapat memenuhi hal-hal yang telah diutarakan dan relatif stabil dalam kondisi yang bermacam-macam. Penelitian yang dilakukan oleh Great Place to Work menemukan bahwa perusahaan yang terbuka, jujur, dan autentik, bahkan saat kondisi tidak positif,  akan mendapatkan loyalitas karyawan yang mengarah pada hasil bisnis yang lebih baik saat banyak perusahaan lain mengalami kebangkrutan.

Pastikan HR berada pada posisi yang netral dimana semua informasi tidak dilebih-lebihkan sehingga menakut-nakuti namun juga tidak menutupi keadaan yang sebenarnya dan terkesan sugar coating agar para karyawan tetap tenang. Karyawan akan lebih mengapresiasi kejujuran.

4.   Tinjau Ulang Strategi Perekrutan, Pemecatan, dan kenaikan Jabatan

Saat masa sulit, kebanyakan perusahaan mengikuti pendekatan last-in, first-out. Artinya perusahaan menghentikan pegawai-pegawai yang masa baktinya belum begitu lama dipekerjakan, hal ini berpotensi stagnasi perkembangan yang mungkin diperlukan perusahaan.

Perusahaan juga seringkali lebih mengapresiasi mereka yang bekerja menjadi garda terdepan perusahaan dan tidak begitu memperhatikan tim yang berada pada bagian support. Pastikan perusahaan memiliki SOP yang jelas dan terstruktur untuk perekrutan, pemecatan dan kenaikan jabatan agar semua pihak mendapatkan keadilan dan perusahaan dapat terus memenuhi semua janjinya sesuai peraturan perusahaan.

5.   Libatkan Karyawan ketika ada Restrukturisasi

Selama masa resesi, perubahan tim dan restrukturisasi merupakan hal yang sangat lazim. Meskipun hal ini dapat berarti mengucapkan selamat tinggal pada beberapa karyawan, restrukturisasi dapat berarti menyambut karyawan baru dan memberdayakan karyawan yang ada ke tim lain. Perubahan ini sedikit atau banyak dapat mempengaruhi sisi psikologis karyawan.

Idealnya, karyawan bergabung dengan tim baru secara sukarela. Berikan mereka kesempatan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan mengenai dimana mereka akan berubah divisi atau bagaimana mereka berpikir tim harus dibentuk. Namun tentu saja tidak semua hal dapat terjadi secara ideal. Ada kalanya, terutama selama masa resesi, perubahan staf harus dilakukan dengan cepat. Jika ini terjadi, sangat penting bagi manajer lapangan untuk menyambut karyawan baru dan memahami kekecewaan karyawan.

Para praktisi HR akan dituntut untuk selalu terbuka dengan perubahan yang terjadi dan mampu mengakomodir suara karyawan dan arah bisnis para pimpinan perusahaan agar jalan tengah yang membuat pertumbuhan perusahaan lebih berkelanjutan dan tentunya inklusif dapat secara profesional terus berlanjut.

Baca juga: Kupas Tuntas Budaya Perusahaan dalam Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi 2023

Sources:

Ecommurz

Forbes

Great Place to Work

KemenKeu

Layoff.FYI

McKinsey

SHRM 

Author

Written by Luqman Hafidz

Related Posts

No related post