Talentics Blog

Tren, Wawasan, dan Opini seputar HR & People Analytics

Talent Assessment and Selection

Data, Mesin, dan Sistem Sebagai Penunjang Emotional Intelligence

19 Aug 2020 Peter Febian

Di zaman sekarang ini dan kedepannya, akan semakin banyak masyarakat dan para peniti karir yang semakin sadar akan pentingnya membangun karir di organisasi atau perusahaan yang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kesehatan mental karyawannya.

Di satu sisi, kita sepenuhnya sadar bahwa perusahaan adalah entitas yang rasional, transaksional, dan fungsional. Namun di sisi lain, organisasi manapun di dunia ini, termasuk perusahaan, diisi oleh manusia sebagai tenaga penggeraknya.

Hingga muncul sebuah pepatah yang dikemukakan oleh Zig Ziglar, yaitu: “You don’t build business. You build people, and people build your business.”, yang artinya bahwa sebuah perusahaan tidak membangun bisnis, tetapi membangun orang-orang di dalamnya, dan orang-orang tersebut lah yang membangun bisnisnya.

Sedangkan rasionalitas merupakan sebagian dari karakter dasar manusia, yang juga memiliki emosi, perasaan, memori masa lalu, kecemasan, dan sejumlah ekspresi mental lainnya. Hal seperti ini semakin terekspos di tengah situasi krisis dan depresi global seperti sekarang ini.

Baca Juga : Ketika Kompetensi Dipatahkan Demografi, Masih Zaman?

Dengan demikian, perusahaan yang dapat memenangkan Talent War sesungguhnya bukanlah perusahaan dengan nama besar atau perusahaan yang memiliki anggaran besar semata. Karena pada kenyataannya, berdasarkan data dan survei di berbagai negara, nama besar perusahaan dan pengeluaran anggaran yang besar untuk gaji, hanya menjadi faktor nomor dua (atau nomor kesekian) bagi karyawan-karyawan dengan performa tinggi, untuk tetap tinggal di perusahaan itu dalam waktu lama.

Variabel utama penentu apakah karyawan dengan performa tinggi dapat bertahan cukup lama di suatu perusahaan, adalah kultur yang ada di dalam perusahaan itu sendiri. Baik kultur kepemimpinan maupun kultur organisasi secara keseluruhan. Singkatnya, penghasilan dapat dicari di mana pun, tetapi kultur adalah sesuatu yang unik yang dapat menjadi pembeda antara organisasi satu ke organisasi lainnya.

Talenta-talenta berperforma tinggi dapat “melebarkan sayap” di mana saja, alias tidak perlu terlalu khawatir dengan faktor penghasilan. Namun ketika mereka memutuskan untuk bertahan dalam waktu yang cukup lama di suatu organisasi, pastilah di dalam organisasi tersebut ada "sesuatu" (bukan uang, bukan materi, dan bukan jabatan) yang dapat memberikan tingkat kepuasan kerja dan alasan bagi mereka untuk tetap loyal dan produktif di perusahaan tersebut.

Talentics telah merilis data terbaru yang solid, bahwa di tengah krisis global dan ketidakmenentuan belakangan ini, talenta-talenta berperforma tinggi cenderung lebih tertarik dalam mempertimbangkan dan memilih bekerja di perusahaan yang mementingkan kultur positif bagi karyawannya.

Beberapa poin yang dinilai sebagai kultur positif adalah:

  1. Equal Employment Opportunity (EEO), yang merupakan komitmen sebuah perusahaan untuk memberikan kesempatan kerja yang sama bagi semua orang, sesuai dengan persyaratan kebutuhannya, tanpa melakukan diskriminasi SARA, umur, dan bentuk diskriminasi lainnya yang tidak memiliki landasan rasional dan fungsionalnya.
  2. Menghargai diversitas, atau keragaman. Organisasi yang menerapkan prinsip diversitas, akan memiliki kekayaan dan kedalaman kultur organisasi yang baik. Kepemimpinan pun akan ditopang oleh berbagai sudut pandang dan pengetahuan yang kaya & beragam, sehingga akan menghindarkan para pengambil keputusan dari kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh pengambilan keputusan yang terlalu homogen atau monolitik.
  3. Menerapkan inklusivitas, atau kultur keterbukaan / transparansi. Setiap orang merasa aman karena terpapar oleh informasi yang kredibel dari organisasi atau manajemen, tanpa perlu "merasa ada dalam bahaya" ketika menjalankan suatu penugasan atau evaluasi. Kultur inklusif ditopang oleh keterbukaan informasi dan kenyamanan dalam berkomunikasi lintas-departemen, lintas-fungsi, dan lintas-jabatan. Di dalam organisasi yang menjunjung tinggi inklusivitas, mereka selalu mengupayakan tingkat Office Politics dan Office Drama di tingkatan seminim mungkin, agar para karyawan di dalam organisasi tersebut dapat sepenuhnya fokus ke produktivitas dan pengembangan dirinya.

Memang benar bahwa kultur perusahaan itu pertama kalinya ditentukan dan dibuat oleh pemegang otoritas tertinggi di perusahaan tersebut. Karena sifat kultur perusahaan adalah pasti top-down, bukan sebaliknya. Sehingga dengan demikian, para karyawan tidak mungkin “mengganti bos” hanya karena bos tersebut berperilaku buruk dan tidak sesuai dengan aspirasi kultur para karyawannya.

On the bright side, penggunaan Digital Assessment Tools seperti Talentics, telah terbukti sangat membantu para pencari kerja dan peniti karir dengan teknologi yang secara ilmiah berbasis data, dapat membangun pemahaman akan kecocokan jati diri dan karakter individu dengan organisasi yang telah atau hendak dituju. Ini akan meminimalisir faktor “kejutan” atau rasa kurang nyaman ketika seorang karyawan baru memasuki sebuah perusahaan dengan kultur yang baru juga.

Baca Juga : Menciptakan Budaya Perusahaan yang Positif dengan Memanfaatkan Assessment

Dengan memanfaatkan teknologi People Analytics dan Assessment Talentics, kandidat tidak perlu lagi merasa sulit untuk menerka-nerka apakah dirinya akan cocok dengan culture perusahaan yang dituju dan recruiter pun dapat lebih mudah menemukan kandidat yang sesuai dengan culture perusahaan karena cultural fit dapat di-assess dalam assessment Talentics. Tentunya hal ini akan memudahkan recruiter dan kandidat untuk menemukan kecocokkan secara cultural.

Dengan data dan teknologi, para praktisi HR dapat meningkatkan persentase pencarian talenta dengan karakter yang sesuai dengan tuntutan zaman, atau talenta yang tech-savvy, untuk dapat masuk dan bertahan di perusahaan mereka.

Jika para praktisi HR dapat menjalankan fungsi Performance Management yang kredibel, para talenta yang sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan kualifikasi perusahaan, dapat beralih dan berkesempatan untuk berkarir di perusahaan lain yang lebih sesuai dengan karakternya, atau menjadi pengusaha mandiri. Sementara itu, para talenta yang tinggal di dalam perusahaan tersebut adalah para pribadi yang sepenuhnya terkoneksi satu sama lain, baik dengan sesama karyawan atau pun dengan kultur perusahaannya, demi mencapai tujuan bersama secara efektif & efisien.
 

Author

Written by Peter Febian Contributor