Talentics Blog

Tren, Wawasan, dan Opini seputar HR & People Analytics

Talent Assessment and Selection

Peran Aptitude Test di Tahap Rekrutmen dalam Mengungkap Potensi Kandidat

25 Nov 2020 Annisa Zaenab

Di tahap rekrutmen, berbagai tes biasanya akan dijalani oleh kandidat sebagai salah satu penentuan apakah mereka layak direkrut oleh perusahaan. Salah satu tes yang populer digunakan adalah aptitude test, yang dikenal juga dengan tes kemampuan dasar atau tes bakat.

Aptitude test adalah tes atau asesmen yang mengukur kemampuan kognitif seseorang sebagai prediksi tingkat kesuksesannya untuk dapat melakukan sebuah tugas. Aptitude test mampu mengeliminasi segala bias yang ada dapat muncul dalam pengerjaan tes dengan pengukuran yang terstandardisasi. Umumnya, aptitude test dilaksanakan minimal sebelum proses wawancara dengan HRD untuk menyaring kandidat yang sesuai berdasarkan standar tingkat kemampuan yang dibutuhkan.

Dalam rekrutmen, aptitude test digunakan untuk mengukur dan memprediksi sejauh mana peluang kandidat untuk berhasil ketika melakukan tugas tertentu. Melalui aptitude test, perusahaan dapat mengetahui ketahui keunggulan dan kekurangan kandidat sesuai dengan apa yang ada pada dirinya.

Pada dasarnya, setiap talenta memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, yang salah satunya dapat dilihat dari tingkat kemampuan kognitif yang ia miliki. Berdasarkan pemaparan di atas, fungsi dari aptitude test pada konteks rekrutmen adalah untuk mengetahui potensi kandidat berdasarkan kemampuan dasar yang ia miliki, bukan untuk menguji pengetahuan pada suatu bidang tertentu.

Dalam konteks rekrutmen, aptitude test bertujuan untuk membantu praktisi HR di sebuah perusahaan untuk mengetahui letak kekuatan dan kelemahan kandidat, yang berguna untuk memetakan kandidat sesuai dengan potensi terbaiknya ataupun menyusun strategi pelatihan yang tepat untuk meningkatkan kapasitas yang dibutuhkan. Aptitude test juga umum digunakan oleh perusahaan untuk membuat keputusan terkait pemetaan role ataupun promosi jabatan karyawan. Tidak hanya itu, penggunaan aptitude test juga sering dijumpai di luar dunia kerja. Kini, semakin banyak pelajar yang menggunakan hasil aptitude test sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan jurusan kuliah dan karier yang tepat untuknya.

Di dunia pendidikan, aptitude test lebih dikenal sebagai tes bakat, yang digunakan mengukur potensi akademik para siswa. Di dunia kerja, aptitude test menjadi salah satu bagian dari proses asesmen untuk mengukur kompetensi yang dimiliki kandidat, yang lebih populer dengan nama psikotes.

Praktisi HR biasanya menggunakan aptitude test dalam tahap rekrutmen sebagai “saringan awal”, karena dianggap akurat untuk memprediksi kontribusi seperti apa yang dapat diberikan kandidat kepada perusahaan di masa depan serta kemungkinan mereka sukses dalam bekerja, yang secara langsung akan mempengaruhi baik atau buruknya kinerja perusahaan dalam melaksanakan proses bisnisnya.

Baca juga: Kenali Jenis Asesmen dan Manfaatnya untuk Proses Rekrutmen Perusahaan Anda

Jenis-Jenis Aptitude Test yang Umum Digunakan dalam Tahap Rekrutmen

1. Verbal Reasoning

Verbal reasoning merupakan jenis aptitude test yang mengukur kemampuan kandidat mengenali dan mencerna suatu informasi. Informasi tersebut merupakan kalimat yang dapat diketahui secara langsung maupun tidak pada suatu teks. Kemampuan yang diukur pada verbal reasoning ialah pengenalan terhadap kata-kata, pemahaman terhadap makna suatu bacaan, serta pengambilan kesimpulan berdasarkan susunan kalimat. Dalam dunia kerja, penalaran verbal sangat diperlukan untuk membantu kandidat memahami, mengolah, dan mengambil kesimpulan dari beragam informasi yang diberikan. Penalaran verbal secara tidak langsung juga berguna membantu seseorang untuk berkomunikasi secara lebih efektif dengan perbendaharaan kata yang kaya.

2. Quantitative Reasoning

Quantitative reasoning merupakan jenis aptitude test yang mengukur kemampuan berpikir secara logis dan runtut. Seseorang dituntut untuk dapat berpikir baik melalui penalaran induktif maupun deduktif. Pengukuran kemampuan penalaran kuantitatif diukur menggunakan operasi matematika yang disusun membentuk sebuah pola tertentu. Penalaran ini merupakan gabungan antara kemampuan matematika, dan kemampuan berpikir kritis untuk menarik kesimpulan yang tepat dari fakta dan bukti yang ada. Kemampuan penalaran kuantitatif termasuk juga pemilihan strategi, pola, dan makna dari suatu perhitungan untuk mendapatkan hasil tidak cuma benar, tapi juga maksimal. Di dunia kerja, penalaran kuantitatif digunakan untuk membantu pekerja berpikir strategis dan menciptakan solusi yang efektif.

3. Logical Reasoning

Logical Reasoning atau Penalaran logis merupakan aspek kognitif yang dapat melihat kemampuan kognitif seseorang dalam mengidentifikasi pola pada fakta-fakta yang tersedia dan menyelesaikan masalah dengan pola-pola yang sebelumnya dipahami. Seseorang yang memiliki kemampuan penalaran yang logis dapat menyelesaikan masalah dengan memahami informasi yang terbatas dan membuat keputusan logis dari informasi yang dipahaminya. Di dunia kerja, penalaran logis dimanfaatkan dalam berbagai tugas pekerjaan, mulai dari memahami data, informasi, berpikir strategis dalam mengambil keputusan, hingga menyelesaikan masalah dalam pekerjaan.

 4. Perceptual Speed

Perceptual Speed, atau kecepatan dan ketelitian, merupakan salah satu aspek kognitif yang dapat melihat kemampuan seseorang dalam merespon stimulus yang melibatkan kecepatan membandingkan beberapa stimulus yang mirip, mencari, dan menggunakan operasi penjumlahan sederhana untuk memperlihatkan keakuratan sebuah prediksi. Seseorang yang memiliki kemampuan kecepatan dan ketelitian yang baik akan dapat menyelesaikan dan membetulkan tugas yang ada dengan cepat dan teliti untuk meminimalisir kesalahan.

5. Visualization

Visualization merupakan aspek kognitif yang meliputi kemampuan persepsi dan kognitif yang dimiliki individu dalam hal membayangkan, memanipulasi, dan mengubah objek dua dimensi maupun tiga dimensi. Kemampuan visualisasi individu dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu spatial relation dan spatial visualization. Seseorang yang memiliki kemampuan visualisasi mampu melihat objek dari berbagai sisi dan membayangkan bentuk objek ketika diubah dan/atau dimanipulasi.

Bagaimana Aptitude Test bisa Mengungkap Potensi Kandidat?

Aptitude test dalam tahap rekrutmen dirancang untuk mengukur kapasitas kognitif kandidat, yang tentunya berkaitan dengan kecocokan kandidat terkait dengan pekerjaan atau role yang diinginkan. Ternyata, konsep di balik aptitude test adalah bahwa setiap pertanyaan tes hanya boleh memiliki satu jawaban benar. Hal ini bertujuan agar dapat melihat kemampuan kognitif kandidat secara objektif dan memudahkan praktisi HR dalam penyusunan scoring.

Dalam banyak skenario, apabila ada kandidat yang dapat dengan cepat menuntaskan serangkaian tes dalam aptitude test dan menjawabnya dengan benar, hal tersebut akan memberikannya poin plus. Itulah alasannya dalam proses pengerjaan aptitude test diberikan alokasi waktu di setiap subtest-nya. Dikutip dari buku Psikologi Kognitif yang ditulis oleh Solso, hanya sekitar 1% sampai 5% dari populasi dapat dengan benar memecahkan semua pertanyaan tes dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. 

Aptitude test disebut juga tes kecerdasan. Menurut pakar psikologi Howard Gardner, kecerdasan kandidat terdiri dari sejumlah jenis kecerdasan berbeda yang berinteraksi dan bekerja sama untuk menghasilkan satu kemampuan yang utuh. Konsep ini lebih dikenal dengan istilah multiple intelligence. Kecerdasan adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak dan memecahkan masalah, yang lebih umum dikenal sebagai ‘street smart’ atau kemampuan untuk berpikir secara strategis. Contoh implementasi dari street smart adalah kemampuan belajar secara adaptif, kemauan untuk mempelajari keterampilan baru, serta kecepatan dalam mengintegrasikan berbagai informasi.

Baca juga: Temukan ‘Hidden Talents’ dengan Menggunakan Assessment!

Aptitude test mengungkap potensi atau kecerdasan kandidat secara holistik. Adapun komponen kecerdasan yang diungkap oleh aptitude test yang dapat diterjemahkan sebagai potensi antara lain:

1. Pemahaman Abstrak

Pertama, aptitude test mengungkap kecerdasan kandidat mengenai pemahaman abstrak. Pemahaman abstrak adalah kemampuan untuk memproses sebuah informasi yang berkaitan dengan objek, prinsip, dan konsep-konsep, yang secara fisik tidak dapat dimunculkan. Contoh dari pemahaman abstrak ialah ilmu psikologi, ilmu sosial, dan ilmu pengetahuan yang tidak konkret. Pada konteks dunia kerja, pemahaman abstrak ini berkaitan dengan kemampuan bekerjasama, memimpin suatu tim, serta kemampuan menghadapi dan menanggapi situasi dimana terjadi perbedaan pendapat.

2. Crystalised Intelligence atau Kristalisasi Intelegensi

Komponen kecerdasan kedua yang diukur oleh aptitude test adalah crystalised intelligence. Crystalised intelligence adalah kemampuan kecerdasan manusia yang diperoleh dari pengetahuan yang sudah dipelajari sebelumnya serta dari pengalaman-pengalaman yang pernah dilalui. Situasi kerja yang memerlukan crystalised intelligence termasuk memahami laporan tertulis dan instruksi, kemampuan untuk menghasilkan laporan, serta kemampuan untuk menggunakan data sebagai alat untuk membuat keputusan yang efektif.

Secara garis besar, penggunaan aptitude test sangat membantu perusahaan untuk menyaring kandidat berdasarkan potensi yang dimilikinya, terlebih apabila perusahaan Anda melakukan rekrutmen massal dan harus menyaring ratusan bahkan ribuan kandidat dalam waktu yang singkat. Dengan Talentics, Anda dapat melengkapi proses rekrutmen hingga promosi jabatan di perusahaan Anda dengan Cognitive Ability Test yang mengukur berbagai aspek kemampuan kognitif dengan level yang dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. Dapatkan kepraktisan ekstra dengan ujicoba dashboard gratis untuk mengundang kandidat secara otomatis dan mengelola kandidat berdasarkan hasil tes untuk pengambilan keputusan HR yang lebih optimal.

Article Editor: Nadia Fernanda

(Image by StartupStockPhotos and F1 Digitals on Pixabay)

 

Author

Written by Annisa Zaenab Blog Writer