Talentics Blog

Tren, Wawasan, dan Opini seputar HR & People Analytics

Talent Assessment and Selection

Response Bias: Penyebab Gagalnya Menyaring Talenta Terbaik dan Cara Mewaspadainya

20 Nov 2020 Annisa Zaenab

Untuk menjawab berbagai kebutuhan praktisi HR dalam mengelola sumber daya manusia, alat ukur yang digunakan oleh perusahaan tentunya harus dirancang berbasis skala psikologi. Diharapkan, skala psikologi ini dapat membantu untuk mengungkap kompetensi kandidat pada proses rekrutmen, pemetaan karyawan, bahkan promosi jabatan.

Saifuddin Azwar, selaku peneliti skala psikologi dalam artikel Buletin Konsorsium Psikologi mengungkapkan bahwa skala psikologi merupakan salah satu jenis alat ukur yang dapat mengukur atribut non-kognitif. Artinya, meskipun dapat mengukur karakteristik yang tersirat sekalipun, alat ukur ini tidak akan lepas dari adanya response bias yang diberikan oleh responden.

Apa itu Response Bias, dan Apa Penyebabnya?

Moors (2014) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa response bias merupakan respons pada alat ukur yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Didorong oleh keinginannya untuk diterima dan lolos dari proses rekrutmen, pemetaan karyawan, ataupun promosi jabatan, mereka cenderung menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tidak sesuai dengan kondisi atau keadaan yang sebenarnya (riil). Tentunya, hal ini sangat menyulitkan perusahaan untuk mengetahui bagaimana kompetensi kandidat yang sesungguhnya.

Baca juga: Arti Penting Pre-Employment Testing dan Assessment

Ketika kandidat diberikan skala kemudian ia membaca suatu pernyataan, maka ketika menjawab ia tidak hanya mencocokkan dengan apa yang ada di dalam dirinya, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor yang lain (misal, ingin dianggap baik atau ingin mengelabui peneliti/penyelenggara survei dengan hasil yang tidak riil). Faktor-faktor lain inilah yang akan menurunkan atribut psikometri dari skala yang digunakan.

Skala likert merupakan jenis skala psikologi yang paling banyak digunakan, baik dalam penelitian maupun asesmen, dibandingkan skala lainnya, seperti skala Thurstone, skala Guttman, maupun skala semantik diferensial. Sebagian besar skala yang digunakan dalam alat ukur psikologi pun termasuk ke dalam inventory atau self-report, dimana kandidat memberikan respons pada skala mengenai dirinya dikarenakan hanya dirinya sendirilah yang paling mengetahui keadaan diri yang sebenarnya.

Harzing, salah satu pakar skala psikologi pada konferensi ilmiahnya di tahun 2006 menjelaskan bahwa pada konteks alat ukur, response bias memang sering terjadi pada alat ukur yang skala likert. Terlebih lagi skala likert masih banyak dan sangat awam digunakan dalam pengukuran non-kognitif (seperti motivasi, konsep diri/kepribadian, atau kepuasaan kerja). Skala likert merupakan skala yang menggunakan pilihan respons yang berurutan seperti skor “sangat tidak setuju” hingga “sangat setuju”. Sudah pasti, ketika kandidat memberikan respons yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya pada sebuah skala psikologi, maka berdampak kepada keakuratan hasil dari skala itu sendiri.

Secara lebih spesifik, response bias dapat mempengaruhi variabilitas dari skor tes, dan yang pasti reliabilitas, validitas, serta penggunaan dari skor tes tersebut. Response bias akan menyebabkan validitas alat ukur akan menjadi rendah karena jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan kenyataannya. Begitu juga dengan reliabilitasnya, karena jawaban yang diberikan kandidat tidak konsisten.

Jenis-Jenis Response Bias

Berdasarkan penyebabnya, response bias dapat dibagi menjadi dua, yaitu response set dan response style.

1. Response Set

Menurut Rorer, response set merupakan keinginan sadar maupun tidak sadar sebagai bagian dari seorang kandidat untuk menjawab dalam cara tertentu untuk menghasilkan gambaran tertentu mengenai dirinya.

Response set terjadi setelah kandidat membaca isi pernyataan lalu membuat respons yang berbeda dari keadaan dirinya. Oleh karena itu, response set bersifat content-dependent bias. Salah satu bentuk response set yang paling dikenal adalah social desirability. Social desirability terjadi apabila respon yang diberikan kandidat berdasarkan keinginan orang-orang sekitarnya, dengan maksud untuk memproyeksikan bahwa ia ingin terlihat “baik” di mata orang yang menilainya. Akibatnya, skor pada skala tidak akan menggambarkan keadaan sebenarnya dari kandidat tersebut.

2. Response style

Response style merupakan kecenderungan kandidat untuk memberikan respon yang sistematis terhadap pernyataan skala yang tidak terkait dengan isi pernyataan tersebut. Dibandingkan dengan respons set, response style cenderung lebih konsisten dan stabil dalam berespons. Dengan kata lain, response style lebih merupakan karakteristik personal dibandingkan karena faktor situasional.

Berbeda dengan response set, response style tidak dapat dihindari hanya dengan cara membuat pernyataan yang baik, mengingat response bias ini merupakan karakteristik kandidat yang tidak terkait dengan isi pernyataan skala. Response style lebih mudah dikenali setelah skala terisi. Beberapa response bias yang termasuk response style ialah:

Extreme Response Styles (ERS)

Kecenderungan kandidat untuk memilih respons yang ekstrim pada skala (misal, “sangat setuju” atau “sangat tidak setuju”)

Middle Response Styles (MRS)

Kecenderungan kandidat untuk memilih respons di tengah pada skala (misal, “netral” atau “ragu-ragu”)

Careless response

Kecenderungan kandidat untuk menjawab asal setiap pertanyaan tanpa pertimbangan apapun serta pengerjaan lebih cepat dari waktu yang sudah di estimasikan.

Acquiescence Bias

Kecenderungan kandidat memberikan respons setuju pada setiap pernyataan, padahal ada pernyataan yang cenderung kontradiktif antara satu dengan yang lain.

Dissent Bias

Kebalikan dari acquiescence bias, yakni kecenderungan kandidat memberikan respons tidak setuju pada beberapa pernyataan, yang menyebabkan adanya respon saling bertolak belakang pada pernyataan yang serupa.

Tips Menyikapi Response Bias yang Bisa Muncul dalam Asesmen Psikologi

Response bias yang diberikan kandidat dalam asesmen psikologi dapat berakibat fatal jika tidak dapat dideteksi, bahkan diabaikan oleh perusahaan. Perusahaan bisa saja melewatkan kandidat yang sesuai, atau bahkan menempatkan kandidat yang salah dan membuat tujuan bisnis sulit untuk dicapai. Maka dari itu, jika praktisi HR menggunakan asesmen psikologi untuk proses rekrutmen, pemetaan, ataupun promosi jabatan, perlu diwaspadai adanya response bias yang dapat muncul, khususnya untuk alat ukur dengan skala likert.

Baca juga: Mengenal Metode Assessment HR yang Biasa Dipakai untuk Mengukur Kompetensi Karyawan

Dikarenakan response set terjadi terkait isi dari pernyataan skala, maka agar tidak terjadi response set, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan membuat pernyataan-pernyataan sebaik mungkin. Hindari menulis pernyataan-pernyataan normatif yang akan disetujui/tidak disetujui oleh sebagian besar kandidat untuk menghindari munculnya respon social desirability.

Berbeda dengan response set, response style tidak dapat dihindari dengan cara membuat pernyataan yang baik, mengingat response bias ini merupakan karakteristik kandidat yang tidak terkait dengan isi pernyataan skala.    

Dengan tujuan menjaga keakuratan hasil pengukuran, maka data dari skala yang terindikasi memiliki response style sebaiknya tidak disertakan dalam analisis. Misalnya, seorang kandidat memilih respons “netral/ragu-ragu/tidak tahu” pada lebih dari 75% pernyataan yang diberikan, maka ini dapat menjadi indikasi adanya response bias pada kandidat tersebut, sehingga Anda dapat melanjutkan proses tanpa mengabaikan respon kandidat terkait lebih lanjut. Namun, hal ini harus dilakukan secara hati-hati karena apabila cukup banyak kandidat yang terindikasi memiliki response bias, bisa jadi ini dikarenakan proses penyusunan skala atau pernyataan yang kurang baik.   

Penggunaan assessment tools online memang tidak serta merta membebaskan dari response bias. Namun, fitur yang ada pada assessment tools dapat membantu menilai, memperbaiki, memantau, bahkan menyempurnakan proses rekrutmen. Ketika assessment tools online turut dirancang untuk dapat mendeteksi response bias, dapat diprediksi tidak akan ada lagi ruang untuk kandidat memberikan respon yang mengandung bias.

Adapun assessment tools yang memakai hasil kombinasi psikometri, teknologi, dan data. Untuk menjaga keakuratan jawaban kandidat, Talentics menghadirkan fitur Response Bias Detection yang mampu mendeteksi memastikan akurasi jawaban kandidat dengan mendeteksi berbagai kejanggalan selama pengerjaan tes. Dengan begitu, perusahaan dapat tetap menyaring kandidat dengan objektif tanpa harus melewatkan kandidat terbaik untuk setiap pekerjaan serta role yang dibutuhkan.

Article Editor: Nadia Fernanda

(Image by Shutterstock)

 

Author

Written by Annisa Zaenab Blog Writer