Talentics Blog

Tren, Wawasan, dan Opini seputar HR & People Analytics

Talent Assessment and Selection

Membangun Kultur dengan Digital Mindset Di Lingkungan Kerja

01 Mar 2021 Nadia Fernanda

Dewasa ini, digitalisasi bukanlah hal baru yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan dan kemajuan yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan secara langsung membuat teknologi berkembang semakin pesat, karena semakin banyak hal yang kita lakukan dapat dipermudah dengan adanya teknologi. Inilah yang membuat kata “digital” semakin akrab di telinga kita.

Fenomena digitalisasi tentunya tidak dapat terelakkan dalam dunia industri. Kini tidak terhitung banyaknya jumlah aktivitas bisnis yang sangat bergantung pada kemajuan teknologi, membuat perusahaan tidak hanya butuh untuk mampu merespon kebutuhan, tapi juga mampu bertahan bahkan berkembang dalam persaingan pasar. Semakin banyak perusahaan yang menyadari pentingnya pergeseran pola pikir dan budaya ke arah digitalisasi, yang diekspektasikan tidak hanya menjadi faktor penting bertahan, namun juga menjadi yang membedakan mereka dari pelaku industri serupa.

Jika melihat dari sudut pandang situasi saat ini, digitalisasi tidak hanya benefisial untuk mendukung sustainabilitas dan keunikan yang dapat ditawarkan oleh perusahaan dalam bisnisnya. Dalam 10 tahun mendatang, angkatan kerja aktif oleh didominasi oleh Gen Z yang merupakan anak kandung teknologi (digital innate). Tidak seperti generasi pendahulunya, Gen Z yang tumbuh besar bersama teknologi terbiasa mengutilisasi teknologi dalam bentuk apapun di aktivitas sehari-hari. Bahkan tidak sedikit dari mereka memiliki aspirasi untuk bekerja di perusahaan teknologi dan digital. Maka dari itu, lingkungan kerja yang didukung oleh penggunaan teknologi yang relevan adalah infrastruktur kerja yang dibutuhkan teknologi untuk memberikan performa sesuai dengan potensi terbaiknya.

Baca juga: There’s more to work for Gen Z: Si Inovatif yang Bergerak Cepat dan Suka Kompetisi

Di samping itu, pandemi COVID-19 sedikit banyak telah memaksa kita mengubah bagaimana sesuatu dilakukan karena kondisi tidak memungkinkan hal tersebut untuk dilakukan sebagaimana mestinya. Perusahaan sebagai organisasi harus mengakui bahwa limitasi dalam konteks kerja harus ditekan dengan harapan agar bisnis tetap dapat berjalan dan bertahan dalam situasi pandemi. Bekerja dalam batasan mobilitas pun kini tidak lagi berarti karena bekerja jarak jauh (remote working) dan bekerja dari rumah (work from home) adalah normal yang baru. Untuk mendukungnya, teknologi dan digitalisasi tentu memegang peranan yang besar.

Baca juga: Kompetensi Penting yang Harus Dimiliki Karyawan selama Work From Home

Dalam riset berjudul Delve deeper into changing organizational culture and mindset: Learnings from COVID-19 oleh Deloitte India, hipotesis yang hendak diuji dicoba untuk dibuktikan dengan mewawancarai anggota C-suite dari 39 organisasi untuk menarik wawasan tentang disrupsi yang ditimbulkan oleh krisis COVID-19 di tempat kerja.

digital minsdet di dunia kerja

Hasilnya, banyak perusahaan beralih ke inovasi untuk mengubah bisnis mereka. Lebih dari 60 persen responden mencontohkan kondisi dimana karyawan dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah terkait pelanggan dengan cara non-tradisional. Menariknya, 74 persen responden juga berbagi sentimen serupa mengenai inovasi dalam proses internal mereka. Contoh umum termasuk mengelola lebih banyak sumber daya yang reusable, membuat produk baru, dan menjelajahi bisnis non-tradisional. Menurut mereka, semua ini dapat diwujudkan dengan agility tinggi, keberanian untuk mengambil risiko dalam bereksperimen, serta sikap positif terhadap transformasi digital.

Maka dari itu, transformasi digital dalam dunia kerja pertama kali dibangun melalui kultur yang mendukung adanya digitalisasi pada berbagai aktivitas bisnis yang dilakukan di dalamnya. Membangun kultur pun bukanlah hal yang yang dapat dilakukan dalam semalam. Semua perusahaan yang terlibat di dalam riset melihat adanya satu atau lebih karakteristik yang melekat dalam organisasi mereka, salah satunya adalah pola pikir. Melalui pola pikir yang relevan, kultur dapat dibangun dan dilestarikan sehingga transformasi digital dapat diwujudkan. Disinilah digital mindset memegang peran penting dalam prosesnya.

Apa itu digital mindset?

Digital mindset, dalam konteks pekerjaan, adalah keyakinan dan pengetahuan seseorang mengenai teknologi digital terbaru yang disadari dan dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan dalam dunia kerja. Pada transformasi digital, digital mindset harus dibuktikan oleh seluruh lapisan sumber daya manusia yang terlibat dalam organisasi agar berhasil di era kemajuan teknologi yang berkelanjutan ini.

Dikutip dari KPMG, entah itu individu, tim, ataupun organisasi secara keseluruhan, digital mindset haruslah menyeimbangkan empat prinsip berikut ini:

  • Keberanian untuk bertindak atau menghadapi tantangan. Setiap orang dipandang sebagai pemimpin dan didorong untuk bertindak dan menghadapi tantangan. Dengan ini, individu diharapkan mencari dan memiliki otonomi dan kebebasan untuk bertindak, sekaligus bertanggung jawab untuk memenuhi tujuan bisnis perusahaan.

  • Menghubungkan proses dari ujung ke ujung (end-to-end). Kegiatan bisnis perusahaan yang saling terhubung mencerminkan dampak disrupsi digital pada rantai company value, business output, dan customer experience secara keseluruhan.

  • Growth mindset. Budaya inovatif dan fleksibel mendorong ketangkasan, kolaborasi, dan perubahan. Ini membutuhkan terciptanya lingkungan kerja dimana job/role individu dapat berkembang dan orang dapat berkolaborasi melintasi batas job/role.

  • Setiap orang adalah inovator. Setiap orang dalam organisasi didorong untuk secara produktif berinovasi melalui bagaimana tugas, peran, dan prosesnya dilakukan antara manusia dan teknologi.

Baca juga: Hal yang Membuat Suatu Perusahaan Menjadi Perusahaan Ideal untuk Fresh Graduate Bekerja

Digital mindset dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu digital belief, digital curiosity, dan digital venturesity. Digital belief adalah keyakinan individu bahwa teknologi digital dapat untuk menunjang pekerjaan, dimana ia percaya teknologi digital dapat membantu mengerjakan kegiatan dalam dunia kerja dengan lebih efektif. Digital curiosity adalah ketertarikan individu untuk mencari tahu perkembangan teknologi digital terbaru yang dapat menunjang pekerjaan, dimana ia akan selalu mengikuti informasi terkini mengenai perkembangan teknologi digital. Sedangkan digital venturesity adalah keberanian individu untuk mencoba menggunakan teknologi digital terbaru sehingga memperoleh manfaat yang maksimal untuk menunjang pekerjaan, dimana ia cenderung ingin mencoba teknologi digital terbaru walaupun terdapat berbagai tantangan dalam menggunakannya.

Tips membangun kultur digital mindset di dunia kerja

Transformasi digital terasa menakutkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang terintimidasi dengan cepatnya perkembangan teknologi yang terjadi di sekitar kita. Namun, seperti hukum alam pada umumnya, siapa yang tidak memiliki keinginan, kekuatan, serta keberanian untuk bertahan akan hanyut dan tenggelam dalam arus.

Transformasi digital bukan hanya soal “topik besar” seperti artificial intelligence, big data, ataupun machine learning. Hal-hal sederhana seperti bagaimana cara kita berkomunikasi, melakukan pencatatan, hingga memecahkan suatu masalah dengan lebih efektif adalah pendekatan terbaik untuk menerapkan transformasi digital pada prosesnya.

Singkatnya, transformasi digital adalah tentang sumber daya manusia yang mengubah cara mereka dalam melakukan pendekatan pada masalah bisnis dan dimana mereka bisa menemukan solusi. Teknologi dan gawai bukanlah hal yang mendorong transformasi digital, namun manusia. Berikut ini adalah tips yang dapat membantu Anda membangun kultur dengan digital mindset di perusahaan Anda.

digital mindset di lingkungan kerja

1. Pahami bahwa kita bisa karena terbiasa. Tanpa kita sadari, sudah banyak aktivitas sehari-hari yang beririsan dengan aktivitas dunia kerja yang dapat kita lakukan dengan bantuan teknologi dan digitalisasi. Artinya, bukan tidak mungkin membiasakan diri dengan penggunaan teknologi dan digitalisasi di lingkungan kerja, karena beberapa hal mungkin saja sudah biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Memulai sesuatu dari awal bisa menjadi hal yang merepotkan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa hal-hal yang kini bisa kita lakukan dengan mudah adalah karena kita telah terbiasa melakukannya. Sebagai contoh, kita sudah terbiasa berkomunikasi menggunakan aplikasi Whatsapp dan/atau email dalam kehidupan sehari-hari. Karena kita terbiasa bertukar berbagai jenis informasi dengan teknologi tersebut, kita dapat dengan mudah membiasakan diri menggunakannya dalam lingkup kerja baik untuk saling mengirim dokumen, menyimpan file penting agar dapat diakses bersama, hingga memungkinkan untuk melakukan diskusi jarak jauh.

2. Cari tahu, jangan hindari. Teknologi dan digitalisasi sejatinya hadir untuk mempermudah manusia untuk melakukan segala sesuatu, bukan mempersulit. Terlebih di kondisi pandemi yang tidak memungkinkan kita untuk melakukan pekerjaan dengan sebagaimana mestinya, pasti kita akan banyak menemui tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satunya adalah pergeseran metode dan cara kerja yang banyak melibatkan peran teknologi dan digitalisasi.

Jika Anda dihadapkan dalam situasi seperti ini, hindari sikap resisten atau bahkan menghindar. Kunci penting dari membangun kultur dengan digital mindset adalah selalu menjaga pikiran agar selalu terbuka. Alih-alih menghindar, pahami bahwa penggunaan teknologi serta digitalisasi dapat memungkinkan Anda untuk mengubah rapat yang membuang waktu dan tenaga dapat diselesaikan hanya dengan serangkaian email, atau dokumen fisik dapat didokumentasikan secara digital dan dikirim tanpa harus repot menyiapkan, mencetak, serta mengirimnya secara fisik. Dengan begitu, Anda dapat mencari tahu penggunaan teknologi yang tepat untuk berbagai task yang ada dan menerapkannya dengan baik.

3. Berikan motivasi yang tepat. Digital mindset tidak dapat membudaya begitu saja di lingkungan kerja tanpa motivasi yang tepat. Untuk mewujudkan bentuk yang lebih konkret, motivasi seluruh sumber daya manusia yang ada di perusahaan Anda dengan infrastruktur yang mendukung, peningkatan kapasitas digital literacy secara formal ataupun informal dalam lingkungan kerja, serta apresiasi terhadap inovasi dan performa mereka melalui efektifitas dan efisiensi dari pekerjaan yang mereka lakukan dengan pemanfaatan teknologi dan digitalisasi.


Secara garis besar, digital mindset menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh kandidat ataupun karyawan untuk dapat memberikan performa terbaiknya dalam berbagai situasi dan kondisi, terutama pada masa pandemi dimana bekerja remote atau WFH menjadi sebuah keharusan, Dengan Talentics General Competency Test, ketahui apakah kandidat atau karyawan Anda telah memiliki kompetensi digital mindset yang diperlukan sesuai dengan standar perusahaan. Dapatkan uji coba dashboard Talentics gratis untuk mempermudah pengelolaan tes, hasil, serta mendukung efektifitas manajemen sumber daya manusia di perusahaan Anda.

(Pictures via Unsplash)

Author

Written by Nadia Fernanda

Related Posts

No related post